Aku pernah bermimpi….
Menjadi
lebih baik, lebih hebat, lebih kuat, lebih bijak, dan lebih tabah. Seakan
menjadi manusia yang lebih sempurna, yang tidak akan menangis karena hal
sepele, akan berlapang dada saat kegagalan menerpa, berakar kuat untuk
menompang angin, namun tidak kaku, hanya mengikuti gerakan udara yang bergerak
dalam diam.
Ya,
bagai pohon muda. Sebuah jati muda berkayu lentur, tetap kuat walau hujan dan
petir menakuti, walau bintang-bintang menatapiku dalam diam, walau matahari menertawaiku
tiap harinya, dan bulan tersenyum kecut menatapiku.
Kemudian
perlahan, perlahan namun pasti aku tumbuh dewasa, menjadi jati besar dan kokoh,
melindungi apapun di sekitarnya. Keras, berpendirian, namun tidak mengganggu
dan berguna. Siap dan rela berkorban demi kepentingan orang banyak kapanpun, dan
hanya menunggu antrian saja. Lalu hidup itu akan berakhir, dimana sebuah
ruangan yang tampak menyenangkan menjadi bidang pandangku saat membuka mata.
Aaah,
inikah metafora? Saat iri hatiku menjadi pembatas perkembanganku, atau saat
nafsuku membutakan relung hatiku. Saat kopi kental tidak lagi menghilangkan
kantuk, seakan pembuluh darahku gentar, tidak ingin dilebarkan oleh
kafein-kafein itu.
Atau
mungkin memang ini tahapan yang wajar? Sebagai api pematang mentalku. Atau juga
pupuk yang menyuburkan hatiku.
Aku
tidak tahu…. Namun bukan berarti tidak ada bayangan di benakku.
Aku
yakin kesalahanku akan menjadi teman di masa depanku. Menjadi teman pengingat
kebodohanku, atau menjadi teman tawaku saat aku termenung sendiri menatap
langit. Entah langit putih di kamarku, atau langit belacu saat matahari absen
dari dunia.
Yah,
metafora. Majas manusia dari sebelum Paris diperebutkan dua singa, atau Troya
mematung hening dan dingin penuh maksud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar