Senin, 17 Oktober 2016

Mengenang Bulan-bulan di Majalah Ganesha

Oleh: Ardji Naufal Setiawan

                Sudah beberapa bulan sejak saya mendaftarkan diri menjadi anggota MG. Berkaitan dengan hal ini, dan sekaligus karena tugas, saya menulis ini.
               
                Saya sebelumnya hidup di sebuah kabupaten kecil yang sering saya sebut sebagai “Daerahnya daerah”, Rejang Lebong, Bengkulu. Sebuah kota kecil yang pernah ditanyakan oleh temanku, “Ada jalan gak di sana?” Mendengarnya saya tertawa saja, sudah biasa bagi saya saat pulau-pulau selain Jawa di Indonesia ini diperlakukan seperti anak tiri. Kecuali Papua Barat, jadi anak pembantu tampaknya…
                Yah, karenanya tak salah memang jika nasionalisme teman-temanku di daerah terbilang lemah. Upacara bendera hanya menjadi ujian dengan pingsan sebagai kondisi gagalnya, sejarah hanya menjadi buku teks yang hanya perlu dihapal beberapa istilahnya. Miris memang, tapi apakah kita dapat menyalahkan mereka?
                Saya yang beruntung karena memiliki orang tua yang berpendidikan tinggi dan memiliki sudut pandang lain karena besar di Ibukota, memiliki pandangan lain atas nasionalisme dan sejarah. Tapi hanya seperti setetes air di gurun sahara, apalah artinya stigma saya yang berbeda ini? Pada akhirnya saya justru merasa janggal karena hampir tidak ada teman yang tertarik dengan pokok pembicaraan saya yang sedikit berat ini.
                Karena hal ini, saya nyengir saat mendengar trio unit kajian di ITB, MG, PSIK, dan Tiben. Walaupun tidak mengerti maksud dari analogi restorannya, saya memilih MG karena ingin mengangkat topic-topik yang berkaitan dengan fenomena sejarah. Saya pikir MG hanya unit kajian biasa, dan ternyata, entahlah… Yang pasti saya salah besar.
                SIngkat cerita saya bergabung ke MG. Awalnya saya sempat bertanya-tanya, “Kapan kumpul perdananya nih?” tapi pada akhirnya justru saya yang tidak ikut kumpul perdananya karena sakit. Sampai sekarang saya masih menyesal tidak ikut kajian animal farm yang menarik itu…
                Pertemuan perdana bagi saya pribadi justru bukan saat PAB, tapi justru saat sebuah kajian yang dibuka untuk umum bertemakan “Tertipu Statistik”. Awalnya saya tidak begitu tertarik, “Masa statistik lagi sih?” setelah dibuat mual oleh kalkulus di kelas. Tapi lagi-lagi saya salah besar.
“Four hostile newspapers are more to be feared than a thousand bayonets,” begitulah yang pernah dikatakan oleh Napoleon Bonaparte. Sangat logis memang, mengingat bahwa kerusuhan puluhan ribu orang, yang dapat disebabkan oleh ulah Koran-koran, jauh lebih menyeramkan daripada seribu bedil. Senjata  menyeramkan yang bernama ‘informasi’ ini memang sangat hebat, mengingat bahwa informasi dapat menggerakkan manusia dengan mudahnya.

                Sesuai dengan kalimat Napoleon di atas, hal yang saya dapatkan di kajian tersebut justru sebuah latihan untuk perang! Perang dengan pena dan kertas tepatnya. Analogi yang terdengar “lebay” memang, tapi ini pendapat jujur dari saya yang masih asing dengan istilah oplah, tubir, dan lainnya. Tidak hanya diajarkan teknik bertaahan dari serangan dan tipu daya dunia ‘buaya dan lintah’ ini, tapi juga cara menyerang dan menggunakan senjata, pena yang kadang lebih tajam dari pedang Salahudin. Catatan saya untuk pertemuan itu masih tersimpan di dompet saya, yang belakangan isinya kosong melulu, hahaha.
                Waktu terus berlalu dan makin banyak ilmu ayng menyingkap tabir dunia saya dapatkan. Yah, saya tahu dunia ini kotor, tapi apa saja kotornya, atau fakta bahwa di dalam kotoran itu ada kotor yang lebih kotor lagi, baru saya dapat setelah bergabung di MG. Saking takjubnya, saaya sampai berkata kotor sambil perlahan namun pasti dan bahkan dengan atau tanpa saya sadari, saya mulai melangkah ke dunia kotor yang lebih kotor dari toilet kosan saya ini. Yah, dengan tahu berarti kita terlibat, kalimat itu mungkin dapat membuat kalimat-kalimat saya tadi terdengar lebih jelas.
                Orang-orang di MG sadar akan hal ini namun tetap rajin datang dan terus berkemelut dengan busuknya dunia. Ofek contohnya, ketua MG saat ini, tampak pendiam, santai, dan tenang, tapi ternyata tulisannya setajam pedang emir mesir. Tulisan-tulisannya yang baru-baru ini say abaca membuat saya sadar ribuan kekurangan saya dalam menulis. Anggota-anggota seangkatan saya juga tidak kalah hebatnya, membuat saya mulai berkaca karena mulai malas membaca dewasa ini… Unit kajian yang lain juga sangat menarik. Beberapa kali saya berinteraksi dengan anak Tiben dan selalu mendapat pencerahan baru dari sudut pandangnya yang berbeda, sekaligus lelah karena sudut pandang yang berbeda ini. 
Pernah juga saya berbincang dengan orang yang disebut sebagai “Tetua Sunken” dari MG, sayangnya tidak begitu ingat namanya, tapi saya ingat ia akan lulus di tahun keenamnya di ITB tahun ini. Ini terjadi saat pertama kalinya saya masuk ke sekre MG, dan terbengong-bengong karena telah mendengar hal-hal yang saya rasa tidak seharusnya saya dengar. Belakangan setelah saya mendengar mengenai sebuah organisasi yang disebut “Rakapare”, saya merasa bahwa hal ini berkaitan. Saat itu saya dipersilahkan masuk, hanya terdiam mendengar sang tetua sunken berbincang dengan seseorang yang tampak meminta tolong padanya. Beberapa menit kemudian, saya tiba-tiba saja ditinggal sendiri di sebuah ruangan yang baru pertama kali saya masuki, terpaksa menunggu karena tidak bisa meninggalkan ruangan itu tanpa penjagaan.
Beruntung setelah beberapa saat seorang anggota MG, yang setelah berbincang dengannya saya ketahui bahwa ia adalah mantan ketua MG, yang menemani saya berbincang selama beberapa saat. Kata-katanya yang sangat berkesan bagi saya adalah, “MG bukan mengiriimkan anggotanya, tapi anggotanya boleh berkegiatan di luar dengan menggunakan nama MG.”
Anehnya, beberapa stigma negatif kerap saya dengar dari teman-teman seangkatan saya mengenai MG. Beberapa orang mengaitkannya dengan 'ateis', yang menurut saya sangat salah. MG bahkan tidak pernah memberikan penjelasan tentang paham apapun, kecuali jika kita sendiri yang bertanya tentunya, dan ini pun tidak memiliki sangkut paut dengan MG karena hanya berupa perbincangan antar anggota yang ingin bertukar pikiran. 
Yah, masih muda umur saya di sekre MG ini. Apa saja yang akan saya dapatkan dan apa saja yang dapat saya berikan ke depannya, hanya Tuhan dan orang-orang di masa depan yang tahu. Mari berharap saja bahwa perubahan yang terjadi membawa dampak yang baik ke diri saya, orang-orang sekitar saya, dan lingkungan sekitar, atau bahkan dunia? Masa depan memang selalu lebih tidak terduga dari fiksi, jadi mari kita tunggu saja kelanjutan ceritanya.... 

               

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar