Minggu, 13 November 2016

Bandung Bertanda Seru dan Reaksi Rektorat


                Aloha, selamat datang para pembaca (kalau ada) dan para senior yang membaca tulisan ini. Selamat malam senin dan good luck untuk orang-orang yang terjebak macet karena banjir di luar sana. 
                Tulisan saya kali ini mengenai fenomena sosial yang sedang terjadi baru-baru ini....


                Media masa sedang dihebohkan dengan kondisi Bandung yang menimbulkan keresahan di hati masyarakatnya, atau orang-orang tua mahasiswa rantau seperti saya. Badai petir yang membuat Saraga menjadi tempat diskotik dadakan (yang didatangi polisi, pengunjungnya kabur sana-sini karena peringatan megaphone), begal yang sempat-sempatnya membacok orang sebelum shalat subuh (jam 4 pagi haha), dan geng motor yang kelihatannya tidak punya deadline Tugas Pendahuluan di depan mata (malam malah keluyuran, enaknya) menjadi fenomena yang membuat heboh media masa dewasa ini. Celakanya, fenomena-fenomena ini marak terjadi di daerah Bandung Utara, terutama Dago, dan sering kali para geng motor dan begal ini mengincar mahasiswa-mahasiswa “In The Cost” (Kosan), dan ITB sebagai salah satu perguruan tinggi yang berada di Bandung Utara merasakan dampaknya secara langsung. Lalu, bagaimanakah sikap para pembesar-pembesar Intitut Ganesha tersebut?
                Wacana (saya sebut sebagai wacana karena belum dapat memastikan apakah peraturan ini resmi diberlakukan atau tidak) untuk memajukan jam malam pun muncul. Jam malam yang awalnya dimulai pukul 23.00, rencananya diubah menjadi pukul 21.00, namun dengan tambahan bahwa Mahasiswa yang sudah mendapat izin diperbolehkan untuk menginap, sayangnya di masjid Salman. Ddemikianlah yang saya dengar, dan saat menyampaikannya pada teman, mereka langsung ketawa. “Perlu izin toh untuk nginep di Salman?” begitulah respon mereka.
                Efektifkah jika wacana ini terealisasikan (sekali lagi dengan asumsi bahwa hal ini belum diresmikan)? Secara pribadi saya menyetujuinya? Mengapa? Pertama karena tempat yang dipilih adalah masjid Salman di Jalan Ganesha yang relatif ramai dibandingkan dua jalan lain yang mengelilingi ITB. Tempat parkir lainnya di Saraga termasuk jalur yang sepi, kurang penerangan, dan penuh lubang, membuatnya menjadi jalur yang berbahaya untuk dilewati saat malam. Kedua, jalan Ganesha (jalan keluar dari lapangan parkir daerah selatan ITB) jauh lebih ramai dibandingkan jalan keluar dari parkir utara (Saraga) ITB, terutama saat malam hari. Terakhir, pukul sebelas malam memang sudah menjadi jam rawan karena jalan sudah sangat sepi terutama di jalan Tamansari dan Jalan Sumur Bandung. Rencana ini memang dibuat dengan niat baik, dan semoga hasilnya baik pula.


                Gambar: Denah ITB
                Sumber: http://www.pelajarterbaik.com/
                Perlu saya akui bahwa keberadaan begal ini juga meresahkan saya. Pernah saat berangkat ke kampus ITB pada pukul 19.30 WIB, saya melihat dua orang berpakaian hitam dan liar layaknya preman berdiri di dekan tempat kendaraan berputar mengubah arah. Saya bertanya-tanya apakah orang-orang ini yang kita sebut sebagai begal, namun para pengendara lainnya seakan tidak peduli terus saja melaju, atau mungkin mereka juga ragu sama seperti saya. Yah, yang pasti, keberadaan begal ini sangat meyakinkah saya bahwa semua pihak, kecuali pihak begalnya (lol), harus mengambil langkah antisipasi untuk melindungi dirinya, terutama setelah telah jatuh beberapa korban seperti sekarang ini. Saya pribadi sudah mulai mengantar jemput adik saya yang bersekolah di daerah Cihampelas, dan saya juga menyarankan para pembaca untuk mengambil langkah-langkah antisipasi semacam ini.
                Selanjutnya adalah fenomena yang ditimbulkan oleh alam, yaitu hujan angina dan badai petir yang kerap kali menebabkan banjir, pohon tumbang, dan mahasiswa kader mager mendadak (haha). Payung-payung proyek SBM dan FTMD saya akui sangat membantu mobilisasi pada saat hujan melanda, dan saya berharap agar jumlah payung yang disediakan ditingkatkan lagi. Selain itu, saya berharap pada pengelola fasilitas-fasilitas kampus, terutama di daerah Saraga, untuk memberikan peringatan tertulis kepada pemakai fasilitas untuk menghentikan kegiatan di lapangan dan kolam renang saat petir mulai menerangi langit gelap kota Bandung. Dikhawatirkan jika peringatan yang ada hanya berasal dari inisiatif penjaga lapang melalui megaphone, peringatan tersebut terlambat mencegah jatuhnya korban.
                Permasalahan banjir, yang tampaknya sudah menjadi masalah di kota Bandung sejak purbakala tidak dapat banyak saya komentari. Bandung sendiri memang merupakan sebuah danau purba (berdasarkan penelitian para peneliti) sehingga wajar saja jika kota ini menampung air, menimbulkan banjir. Bahkan wilayah Bandung Utara  yang memiliki jumlah daerah hijau yang cukup pun sempat mencicipi banjir saat menghadapi badai ini. Yah, sekali lagi saya katakana bahwa diri yang memang belum pernah mendapat ilmu geografi untuk mengatasi permasalahan ini tidak dapat dan tidak berani berkomentar banyak.
                Yah, ini lah sekilas beberapa fenomena yang melanda bumi Ganesha dewasa ini. Sekian saya ucapkan dan mohon maaf karena kualitas yang buruk dari tulisan ini, maklum penulis habis lari 10 km dengan fisik yang tidak mumpuni ini. Selamat malam, dan salam kerbau~.
               


Rabu, 09 November 2016

Kajian Mengenai Penjajahan

               Dewasa ini, di masa yang mayoritas masyarakat Indonesia akan sebut sebagai masa-masa damai, orang-orang mulai melupakan kelamnya sejarah dunia. Seakan dunia ini memang sedari dulu damai, tak perlu lagi kita membahas hal-hal semacam penjajahan yang justru akan membuat retaknya hubungan Indonesia dengan Negara-negara asing. Penjajahan hanya sejarah, pembahasan mengenainya sama saja dengan memendam dendam.  Namun benarkah demikian?

                Presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo telah mendeklarasikan bahwa bangsa Indonesia menantang penjajahan Israel atas Palestina pada pidato sambutan pembukaan KTT OKI 2016. Hal ini secara terang-terangan menyatakan bahwa penjajahan di dunia belum dihapuskan ditegakkan, atau lebih tepat bila saya katakan bahwa ‘penjajahan yang nyata tampak’ di dunia belum sepenuhnya dihapuskan. Sikap Indonesia selama ini pada Papua Barat juga patut dipertanyakan mengenai keterkaitannya dengan kata penjajahan atau tidak. Singkatnya, penjajahan jelas masih ada, bukan hanya merupakan fakta-fakta sejarah yang selama ini hanya sebatas kumpulan teks di atas kertas buku sejarah yang sudah penuh dengan air liur murid-murid Indonesia.

                Lebih jauh lagi, mari kita renungkan. Apakah ada manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa kedamaian dunia, setidaknya tanpa adanya perang fisik yang menyeret Indonesia ke dalamnya secara langsung, yang kita nikmati saat ini dapat bertahan selamanya? Siapa yang bisa menjamin bekas-bekas penjajah itu tidak akan berbuat sedemikian rupa lagi di masa yang akan datang, entah berapa generasi ke depannya. Siapa juga yang bisa menyangkal akan datangnya penjajah-penjajah baru yang tidak pernah diduga seperti Jepang yang tiba-tiba bangkit setelah restorasi Meiji. SIapa juga yang bisa menyangkal Indonesia entah berapa dekade setelah artikel ini dibuat tidak akan menjajah Negara lain? Untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan yang tidak mengenakkan telinga ini, saya rasa pembahasan mengenai penjajahan dibutuhkan, entah di masa damai atau terlebih lagi dii masa perang.


                Setidaknya hal-hal yang saya sampaikan di atas cukup menjadi desakan atas dibutuhkannya pembahasan mengenai topik penjajahan ini. Tentunya masih banyak alasan lagi, yang akan kami bahas dalam kajian bertema “Penjajahan, Masih Perlu Dibahas?” Pertanyaannya, menurut anda, masih perlukah penjajahan dibahas? 

Senin, 17 Oktober 2016

Metafora

{Sebuah karangan lama, yang bahkan penulis pun sudah lupa apa yang ia rasakan saat itu}

Aku pernah bermimpi….

                Menjadi lebih baik, lebih hebat, lebih kuat, lebih bijak, dan lebih tabah. Seakan menjadi manusia yang lebih sempurna, yang tidak akan menangis karena hal sepele, akan berlapang dada saat kegagalan menerpa, berakar kuat untuk menompang angin, namun tidak kaku, hanya mengikuti gerakan udara yang bergerak dalam diam.
            
                Ya, bagai pohon muda. Sebuah jati muda berkayu lentur, tetap kuat walau hujan dan petir menakuti, walau bintang-bintang menatapiku dalam diam, walau matahari menertawaiku tiap harinya, dan bulan tersenyum kecut menatapiku.
                
                Kemudian perlahan, perlahan namun pasti aku tumbuh dewasa, menjadi jati besar dan kokoh, melindungi apapun di sekitarnya. Keras, berpendirian, namun tidak mengganggu dan berguna. Siap dan rela berkorban demi kepentingan orang banyak kapanpun, dan hanya menunggu antrian saja. Lalu hidup itu akan berakhir, dimana sebuah ruangan yang tampak menyenangkan menjadi bidang pandangku saat membuka mata.
                
                Aaah, inikah metafora? Saat iri hatiku menjadi pembatas perkembanganku, atau saat nafsuku membutakan relung hatiku. Saat kopi kental tidak lagi menghilangkan kantuk, seakan pembuluh darahku gentar, tidak ingin dilebarkan oleh kafein-kafein itu.
                
                Atau mungkin memang ini tahapan yang wajar? Sebagai api pematang mentalku. Atau juga pupuk yang menyuburkan hatiku.
                
                Aku tidak tahu…. Namun bukan berarti tidak ada bayangan di benakku.
                
                Aku yakin kesalahanku akan menjadi teman di masa depanku. Menjadi teman pengingat kebodohanku, atau menjadi teman tawaku saat aku termenung sendiri menatap langit. Entah langit putih di kamarku, atau langit belacu saat matahari absen dari dunia.

                
               Yah, metafora. Majas manusia dari sebelum Paris diperebutkan dua singa, atau Troya mematung hening dan dingin penuh maksud. 

Mengenang Bulan-bulan di Majalah Ganesha

Oleh: Ardji Naufal Setiawan

                Sudah beberapa bulan sejak saya mendaftarkan diri menjadi anggota MG. Berkaitan dengan hal ini, dan sekaligus karena tugas, saya menulis ini.
               
                Saya sebelumnya hidup di sebuah kabupaten kecil yang sering saya sebut sebagai “Daerahnya daerah”, Rejang Lebong, Bengkulu. Sebuah kota kecil yang pernah ditanyakan oleh temanku, “Ada jalan gak di sana?” Mendengarnya saya tertawa saja, sudah biasa bagi saya saat pulau-pulau selain Jawa di Indonesia ini diperlakukan seperti anak tiri. Kecuali Papua Barat, jadi anak pembantu tampaknya…
                Yah, karenanya tak salah memang jika nasionalisme teman-temanku di daerah terbilang lemah. Upacara bendera hanya menjadi ujian dengan pingsan sebagai kondisi gagalnya, sejarah hanya menjadi buku teks yang hanya perlu dihapal beberapa istilahnya. Miris memang, tapi apakah kita dapat menyalahkan mereka?
                Saya yang beruntung karena memiliki orang tua yang berpendidikan tinggi dan memiliki sudut pandang lain karena besar di Ibukota, memiliki pandangan lain atas nasionalisme dan sejarah. Tapi hanya seperti setetes air di gurun sahara, apalah artinya stigma saya yang berbeda ini? Pada akhirnya saya justru merasa janggal karena hampir tidak ada teman yang tertarik dengan pokok pembicaraan saya yang sedikit berat ini.
                Karena hal ini, saya nyengir saat mendengar trio unit kajian di ITB, MG, PSIK, dan Tiben. Walaupun tidak mengerti maksud dari analogi restorannya, saya memilih MG karena ingin mengangkat topic-topik yang berkaitan dengan fenomena sejarah. Saya pikir MG hanya unit kajian biasa, dan ternyata, entahlah… Yang pasti saya salah besar.
                SIngkat cerita saya bergabung ke MG. Awalnya saya sempat bertanya-tanya, “Kapan kumpul perdananya nih?” tapi pada akhirnya justru saya yang tidak ikut kumpul perdananya karena sakit. Sampai sekarang saya masih menyesal tidak ikut kajian animal farm yang menarik itu…
                Pertemuan perdana bagi saya pribadi justru bukan saat PAB, tapi justru saat sebuah kajian yang dibuka untuk umum bertemakan “Tertipu Statistik”. Awalnya saya tidak begitu tertarik, “Masa statistik lagi sih?” setelah dibuat mual oleh kalkulus di kelas. Tapi lagi-lagi saya salah besar.
“Four hostile newspapers are more to be feared than a thousand bayonets,” begitulah yang pernah dikatakan oleh Napoleon Bonaparte. Sangat logis memang, mengingat bahwa kerusuhan puluhan ribu orang, yang dapat disebabkan oleh ulah Koran-koran, jauh lebih menyeramkan daripada seribu bedil. Senjata  menyeramkan yang bernama ‘informasi’ ini memang sangat hebat, mengingat bahwa informasi dapat menggerakkan manusia dengan mudahnya.

                Sesuai dengan kalimat Napoleon di atas, hal yang saya dapatkan di kajian tersebut justru sebuah latihan untuk perang! Perang dengan pena dan kertas tepatnya. Analogi yang terdengar “lebay” memang, tapi ini pendapat jujur dari saya yang masih asing dengan istilah oplah, tubir, dan lainnya. Tidak hanya diajarkan teknik bertaahan dari serangan dan tipu daya dunia ‘buaya dan lintah’ ini, tapi juga cara menyerang dan menggunakan senjata, pena yang kadang lebih tajam dari pedang Salahudin. Catatan saya untuk pertemuan itu masih tersimpan di dompet saya, yang belakangan isinya kosong melulu, hahaha.
                Waktu terus berlalu dan makin banyak ilmu ayng menyingkap tabir dunia saya dapatkan. Yah, saya tahu dunia ini kotor, tapi apa saja kotornya, atau fakta bahwa di dalam kotoran itu ada kotor yang lebih kotor lagi, baru saya dapat setelah bergabung di MG. Saking takjubnya, saaya sampai berkata kotor sambil perlahan namun pasti dan bahkan dengan atau tanpa saya sadari, saya mulai melangkah ke dunia kotor yang lebih kotor dari toilet kosan saya ini. Yah, dengan tahu berarti kita terlibat, kalimat itu mungkin dapat membuat kalimat-kalimat saya tadi terdengar lebih jelas.
                Orang-orang di MG sadar akan hal ini namun tetap rajin datang dan terus berkemelut dengan busuknya dunia. Ofek contohnya, ketua MG saat ini, tampak pendiam, santai, dan tenang, tapi ternyata tulisannya setajam pedang emir mesir. Tulisan-tulisannya yang baru-baru ini say abaca membuat saya sadar ribuan kekurangan saya dalam menulis. Anggota-anggota seangkatan saya juga tidak kalah hebatnya, membuat saya mulai berkaca karena mulai malas membaca dewasa ini… Unit kajian yang lain juga sangat menarik. Beberapa kali saya berinteraksi dengan anak Tiben dan selalu mendapat pencerahan baru dari sudut pandangnya yang berbeda, sekaligus lelah karena sudut pandang yang berbeda ini. 
Pernah juga saya berbincang dengan orang yang disebut sebagai “Tetua Sunken” dari MG, sayangnya tidak begitu ingat namanya, tapi saya ingat ia akan lulus di tahun keenamnya di ITB tahun ini. Ini terjadi saat pertama kalinya saya masuk ke sekre MG, dan terbengong-bengong karena telah mendengar hal-hal yang saya rasa tidak seharusnya saya dengar. Belakangan setelah saya mendengar mengenai sebuah organisasi yang disebut “Rakapare”, saya merasa bahwa hal ini berkaitan. Saat itu saya dipersilahkan masuk, hanya terdiam mendengar sang tetua sunken berbincang dengan seseorang yang tampak meminta tolong padanya. Beberapa menit kemudian, saya tiba-tiba saja ditinggal sendiri di sebuah ruangan yang baru pertama kali saya masuki, terpaksa menunggu karena tidak bisa meninggalkan ruangan itu tanpa penjagaan.
Beruntung setelah beberapa saat seorang anggota MG, yang setelah berbincang dengannya saya ketahui bahwa ia adalah mantan ketua MG, yang menemani saya berbincang selama beberapa saat. Kata-katanya yang sangat berkesan bagi saya adalah, “MG bukan mengiriimkan anggotanya, tapi anggotanya boleh berkegiatan di luar dengan menggunakan nama MG.”
Anehnya, beberapa stigma negatif kerap saya dengar dari teman-teman seangkatan saya mengenai MG. Beberapa orang mengaitkannya dengan 'ateis', yang menurut saya sangat salah. MG bahkan tidak pernah memberikan penjelasan tentang paham apapun, kecuali jika kita sendiri yang bertanya tentunya, dan ini pun tidak memiliki sangkut paut dengan MG karena hanya berupa perbincangan antar anggota yang ingin bertukar pikiran. 
Yah, masih muda umur saya di sekre MG ini. Apa saja yang akan saya dapatkan dan apa saja yang dapat saya berikan ke depannya, hanya Tuhan dan orang-orang di masa depan yang tahu. Mari berharap saja bahwa perubahan yang terjadi membawa dampak yang baik ke diri saya, orang-orang sekitar saya, dan lingkungan sekitar, atau bahkan dunia? Masa depan memang selalu lebih tidak terduga dari fiksi, jadi mari kita tunggu saja kelanjutan ceritanya.... 

               

                

Rabu, 12 Oktober 2016

Selamat Datang di Dunia Bernama Kenyataan

{Ditulis saat menunggu dosen bahasa Inggris yang seperti biasa datang tepat waktu...}

SELAMAT DATANG DI DUNIA BERNAMA KENYATAAN
29-9-16

Selamat datang kami ucapkan
di dunia bernama kenyataan
di mana anehnya bisa lebih dari fiksi
di mana yang tak ada bisa jadi norma
di mana kebohongan jadi kepercayaan
di mana pohon bisa berbuah uang

   Selamat datang kami ucapkan
   di dunia bernama realita
   di mana gemerlap gedung mengalahkan bintang-bintang
   di mana petani menginginkan lahannya rusak
   di mana tuan rumah jadi budak tamunya
   di mana yang peduli dikira penghianat rakyat

Selamat datang kami ucapkan
di dunia bernama Indonesia
di mana sopan-santun sudah dibenci
di mana pahlawan hanya nama jalan
di mana kebenaran hanya ada di kebohongan
di mana canda-tawa terdengar di neraka ini.

Daun Merah Tua

{Terinspirasi dari daun merah tua yang dilihat dari lantai empat perpustakaan ITB}

DAUN MERAH TUA
19-9-16

Daun merah tua
Terdiam dua garis terangkat
Terangkat dua tuas menggantung
Melambai ribuan helai menyapa
Batang kayu pohon aneh
Yang daunnya merah tua


   Ribuan kali sudah bola itu menghilang
   Beberapa saat muncul kembali
   Menyapa lensa, iris dan alis
   Yang sekian lama masih mengkilap
   Menatap pepohonan rindang
   Yang daunnya merah tua

Dua kaki pun mulai melangkah
Entah kaki meja atau kaki seribu
Langkahnya saja aneh nian
Perlahan datang menghampiri
Segumpal rambut di atas harimau
Yang saat ditanya telapaknya ke atas.

{Moral value: Jangan mengabaikan pertanyaan anak-anak anda!}

Andaikan... Tapi... Entahlah...

{puisi spontan lagi...}

ANDAIKAN... TAPI... ENTAHLAH...
19-9-16

Andaikan...
Ia diam saja
Tak menerus mendorongku
Tak melulu mendesakku
Padahal aku ingin diam
Menikmati masa-masa itu
Terdiam menatap kapas-kapas berwarna
Tak menahu perkara cicak-buaya
Tak peduli dalam dangkalnya
Hanya tersenyum, menangis, tertawa...


   Tapi...
   Aku tetap berjalan juga
   Mulai iri dengan pohon
   Yang hanya perlu diam
   Tak perlu mendidih otaknya
   Tak perlu gugup kakinya
   Ragu mana kanan mana kiri
   Bimbang mana depan mana belakang
   Yang katanya hanya masalah perspektif
   Tapi katanya itu dengan emosi!


Entahlah...
Aku hanya ingin tidur
Tapi takut tidur juga
Yang katanya sangat lama
Yang katanya selamanya
Dan katanya saat bangun nanti
Mata kaki bisa melihat
Lidah sepatu bisa berkata
Wajar kan aku takut?
Terus kenapa aku masih tergoda?
Kenapa juga aku masih menawar?
Walau kini tahu mana kanan mana kiri
Tapi senyum saja saat dipanggil.

Dia Bau

{puisi spontan lainnya, maaf jika aneh}

DIA BAU
12-10-16


    Kakinya bau
            Mungkin karena dia malas cuci kaki
            Atau mungkin karena dia sibuk bekerja?
            Habis pecah tulangnya ia banting seharian
            Kini tak bertulang, ia tergopoh-gopoh pulang
            Tetap dengan kaki baunya itu

Badannya juga bau
Mungkin karena malas mandi
Atau mungkin karena sabun pun tak punya
Habis uangnya disedot lintah
Saat buaya nyengir melihatnya
Cicak-cicak sibuk berlarian mencari

                Mulutnya juga bau
                Mungkin telah lenyap istilah wangi darinya
                Terhembus angin bersama bau-baunya itu
                Tapi seorang gadis datang menghampirinya
                Mencium tangan dan menghirup baunya

                Ah… Aku mimpi ya?

Lelah

{sebuah puisi spontan dari penulis yang sedang lelah...}


LELAH
18-9-16

Aku lelah...

Jadi aku mau tidur!

Tapi aku juga lelah tidur....

Jadi aku diam saja!

Tapi diam juga bikin lelah...

Jadi aku harus apa?!

Ya, aku harus tidak lelah!

Gimana caranya tidak lelah?

Mati juga terdengar melelahkan...

Tapi hidup juga melelahkan!

Jadi aku harus tidak hidup dan tidak mati?

Tidak hidup dan tidak mati berarti tuhan?

Tapi jadi tuhan juga pasti lelah!

Ya, lelah melihat tingkah kita!

Note: Penulis menggunakan kata "tuhan" dan bukan "Tuhan". Mohon untuk membedakannya....

Apa itu Stom Oto?

Bagi yang belum tau, yaitu hampir seluruh pembaca, jika memang ada, Stom Oto itu apa sih?

Mobil Stom Oto, ketiganya bermakna sama. Menurut kbbi.web.id, maknanya adalah "kendaraan darat yang digerakkan oleh tenaga mesin, beroda empat atau lebih (selalu genap), biasanya menggunakan bahan bakar minyak untuk menghidupkan mesinnya". 

Mungkin sudah banyak yang tau, oto itu bahasa padang untuk mobil. Nah, lalu stom itu apa? 

Stom itu, mobil juga, dalam bahasa Rejang.

Yah, kakak sepupu saya dulu sempat ngakak ngedengarnya sepanjang perjalanan dari Curup, tempat asal suku Rejang, ke Bengkulu, sebuah negeri dengan pantai-pantai indah tidak terjamah dan hutan yang mulai hilang seperti uang bulanan anak kosan (lol). Yah, kata stom memang aneh banget sih, saya sendiri juga bingung dari mana para leluhur suku Rejang ini kepikiran untuk menyebut mobil sebagai stom....

Sekian info gak pentingnya, bagi yang belum tau Bengkulu, mohon segera tahu karena dia juga bagian dari Indonesia.

Dan Bengkulu itu BEDA sama Belitung!!