Oleh: Ardji Naufal
Setiawan
Sudah
beberapa bulan sejak saya mendaftarkan diri menjadi anggota MG. Berkaitan
dengan hal ini, dan sekaligus karena tugas, saya menulis ini.
Saya
sebelumnya hidup di sebuah kabupaten kecil yang sering saya sebut sebagai “Daerahnya
daerah”, Rejang Lebong, Bengkulu. Sebuah kota kecil yang pernah ditanyakan oleh
temanku, “Ada jalan gak di sana?” Mendengarnya saya tertawa saja, sudah biasa
bagi saya saat pulau-pulau selain Jawa di Indonesia ini diperlakukan seperti
anak tiri. Kecuali Papua Barat, jadi anak pembantu tampaknya…
Yah,
karenanya tak salah memang jika nasionalisme teman-temanku di daerah terbilang
lemah. Upacara bendera hanya menjadi ujian dengan pingsan sebagai kondisi
gagalnya, sejarah hanya menjadi buku teks yang hanya perlu dihapal beberapa
istilahnya. Miris memang, tapi apakah kita dapat menyalahkan mereka?
Saya
yang beruntung karena memiliki orang tua yang berpendidikan tinggi dan memiliki
sudut pandang lain karena besar di Ibukota, memiliki pandangan lain atas
nasionalisme dan sejarah. Tapi hanya seperti setetes air di gurun sahara,
apalah artinya stigma saya yang berbeda ini? Pada akhirnya saya justru merasa
janggal karena hampir tidak ada teman yang tertarik dengan pokok pembicaraan
saya yang sedikit berat ini.
Karena
hal ini, saya nyengir saat mendengar trio unit kajian di ITB, MG, PSIK, dan
Tiben. Walaupun tidak mengerti maksud dari analogi restorannya, saya memilih MG
karena ingin mengangkat topic-topik yang berkaitan dengan fenomena sejarah.
Saya pikir MG hanya unit kajian biasa, dan ternyata, entahlah… Yang pasti saya
salah besar.
SIngkat
cerita saya bergabung ke MG. Awalnya saya sempat bertanya-tanya, “Kapan kumpul
perdananya nih?” tapi pada akhirnya justru saya yang tidak ikut kumpul
perdananya karena sakit. Sampai sekarang saya masih menyesal tidak ikut kajian
animal farm yang menarik itu…
Pertemuan
perdana bagi saya pribadi justru bukan saat PAB, tapi justru saat sebuah kajian
yang dibuka untuk umum bertemakan “Tertipu Statistik”. Awalnya saya tidak
begitu tertarik, “Masa statistik lagi sih?” setelah dibuat mual oleh kalkulus
di kelas. Tapi lagi-lagi saya salah besar.
“Four hostile newspapers are more
to be feared than a thousand bayonets,” begitulah yang pernah dikatakan oleh
Napoleon Bonaparte. Sangat logis memang, mengingat bahwa kerusuhan puluhan ribu
orang, yang dapat disebabkan oleh ulah Koran-koran, jauh lebih menyeramkan
daripada seribu bedil. Senjata
menyeramkan yang bernama ‘informasi’ ini memang sangat hebat, mengingat
bahwa informasi dapat menggerakkan manusia dengan mudahnya.
Sesuai
dengan kalimat Napoleon di atas, hal yang saya dapatkan di kajian tersebut
justru sebuah latihan untuk perang! Perang dengan pena dan kertas tepatnya. Analogi
yang terdengar “lebay” memang, tapi ini pendapat jujur dari saya yang masih asing
dengan istilah oplah, tubir, dan lainnya. Tidak hanya diajarkan teknik
bertaahan dari serangan dan tipu daya dunia ‘buaya dan lintah’ ini, tapi juga
cara menyerang dan menggunakan senjata, pena yang kadang lebih tajam dari
pedang Salahudin. Catatan saya untuk pertemuan itu masih tersimpan di dompet
saya, yang belakangan isinya kosong melulu, hahaha.
Waktu
terus berlalu dan makin banyak ilmu ayng menyingkap tabir dunia saya dapatkan.
Yah, saya tahu dunia ini kotor, tapi apa saja kotornya, atau fakta bahwa di
dalam kotoran itu ada kotor yang lebih kotor lagi, baru saya dapat setelah
bergabung di MG. Saking takjubnya, saaya sampai berkata kotor sambil perlahan
namun pasti dan bahkan dengan atau tanpa saya sadari, saya mulai melangkah ke
dunia kotor yang lebih kotor dari toilet kosan saya ini. Yah, dengan tahu
berarti kita terlibat, kalimat itu mungkin dapat membuat kalimat-kalimat saya
tadi terdengar lebih jelas.
Orang-orang
di MG sadar akan hal ini namun tetap rajin datang dan terus berkemelut dengan
busuknya dunia. Ofek contohnya, ketua MG saat ini, tampak pendiam, santai, dan
tenang, tapi ternyata tulisannya setajam pedang emir mesir. Tulisan-tulisannya
yang baru-baru ini say abaca membuat saya sadar ribuan kekurangan saya dalam
menulis. Anggota-anggota seangkatan saya juga tidak kalah hebatnya, membuat
saya mulai berkaca karena mulai malas membaca dewasa ini… Unit kajian yang lain
juga sangat menarik. Beberapa kali saya berinteraksi dengan anak Tiben dan
selalu mendapat pencerahan baru dari sudut pandangnya yang berbeda, sekaligus
lelah karena sudut pandang yang berbeda ini.
Pernah juga saya berbincang dengan
orang yang disebut sebagai “Tetua Sunken” dari MG, sayangnya tidak begitu ingat
namanya, tapi saya ingat ia akan lulus di tahun keenamnya di ITB tahun ini. Ini
terjadi saat pertama kalinya saya masuk ke sekre MG, dan terbengong-bengong
karena telah mendengar hal-hal yang saya rasa tidak seharusnya saya dengar.
Belakangan setelah saya mendengar mengenai sebuah organisasi yang disebut “Rakapare”,
saya merasa bahwa hal ini berkaitan. Saat itu saya dipersilahkan masuk, hanya
terdiam mendengar sang tetua sunken berbincang dengan seseorang yang tampak
meminta tolong padanya. Beberapa menit kemudian, saya tiba-tiba saja ditinggal
sendiri di sebuah ruangan yang baru pertama kali saya masuki, terpaksa menunggu
karena tidak bisa meninggalkan ruangan itu tanpa penjagaan.
Beruntung setelah beberapa saat
seorang anggota MG, yang setelah berbincang dengannya saya ketahui bahwa ia
adalah mantan ketua MG, yang menemani saya berbincang selama beberapa saat.
Kata-katanya yang sangat berkesan bagi saya adalah, “MG bukan mengiriimkan
anggotanya, tapi anggotanya boleh berkegiatan di luar dengan menggunakan nama
MG.”
Anehnya, beberapa stigma negatif kerap saya dengar dari teman-teman seangkatan saya mengenai MG. Beberapa orang mengaitkannya dengan 'ateis', yang menurut saya sangat salah. MG bahkan tidak pernah memberikan penjelasan tentang paham apapun, kecuali jika kita sendiri yang bertanya tentunya, dan ini pun tidak memiliki sangkut paut dengan MG karena hanya berupa perbincangan antar anggota yang ingin bertukar pikiran.
Yah, masih muda umur saya di sekre
MG ini. Apa saja yang akan saya dapatkan dan apa saja yang dapat saya berikan
ke depannya, hanya Tuhan dan orang-orang di masa depan yang tahu. Mari berharap saja bahwa perubahan yang terjadi membawa dampak yang baik ke diri saya, orang-orang sekitar saya, dan lingkungan sekitar, atau bahkan dunia? Masa depan memang selalu lebih tidak terduga dari fiksi, jadi mari kita tunggu saja kelanjutan ceritanya....