Aloha, selamat datang para pembaca (kalau ada) dan para senior yang membaca tulisan ini. Selamat malam senin dan good luck untuk orang-orang yang terjebak macet karena banjir di luar sana.
Tulisan saya kali ini mengenai fenomena sosial yang sedang terjadi baru-baru ini....
Tulisan saya kali ini mengenai fenomena sosial yang sedang terjadi baru-baru ini....
Media
masa sedang dihebohkan dengan kondisi Bandung yang menimbulkan keresahan di
hati masyarakatnya, atau orang-orang tua mahasiswa rantau seperti saya. Badai
petir yang membuat Saraga menjadi tempat diskotik dadakan (yang didatangi
polisi, pengunjungnya kabur sana-sini karena peringatan megaphone), begal yang
sempat-sempatnya membacok orang sebelum shalat subuh (jam 4 pagi haha), dan
geng motor yang kelihatannya tidak punya deadline Tugas Pendahuluan di depan
mata (malam malah keluyuran, enaknya) menjadi fenomena yang membuat heboh media
masa dewasa ini. Celakanya, fenomena-fenomena ini marak terjadi di daerah
Bandung Utara, terutama Dago, dan sering kali para geng motor dan begal ini
mengincar mahasiswa-mahasiswa “In The Cost” (Kosan), dan ITB sebagai salah satu
perguruan tinggi yang berada di Bandung Utara merasakan dampaknya secara
langsung. Lalu, bagaimanakah sikap para pembesar-pembesar Intitut Ganesha
tersebut?
Wacana
(saya sebut sebagai wacana karena belum dapat memastikan apakah peraturan ini
resmi diberlakukan atau tidak) untuk memajukan jam malam pun muncul. Jam malam
yang awalnya dimulai pukul 23.00, rencananya diubah menjadi pukul 21.00, namun
dengan tambahan bahwa Mahasiswa yang sudah mendapat izin diperbolehkan untuk
menginap, sayangnya di masjid Salman. Ddemikianlah yang saya dengar, dan saat
menyampaikannya pada teman, mereka langsung ketawa. “Perlu izin toh untuk
nginep di Salman?” begitulah respon mereka.
Efektifkah
jika wacana ini terealisasikan (sekali lagi dengan asumsi bahwa hal ini belum
diresmikan)? Secara pribadi saya menyetujuinya? Mengapa? Pertama karena tempat
yang dipilih adalah masjid Salman di Jalan Ganesha yang relatif ramai
dibandingkan dua jalan lain yang mengelilingi ITB. Tempat parkir lainnya di
Saraga termasuk jalur yang sepi, kurang penerangan, dan penuh lubang,
membuatnya menjadi jalur yang berbahaya untuk dilewati saat malam. Kedua, jalan
Ganesha (jalan keluar dari lapangan parkir daerah selatan ITB) jauh lebih ramai
dibandingkan jalan keluar dari parkir utara (Saraga) ITB, terutama saat malam
hari. Terakhir, pukul sebelas malam memang sudah menjadi jam rawan karena jalan
sudah sangat sepi terutama di jalan Tamansari dan Jalan Sumur Bandung. Rencana
ini memang dibuat dengan niat baik, dan semoga hasilnya baik pula.
Gambar:
Denah ITB
Sumber: http://www.pelajarterbaik.com/
Sumber: http://www.pelajarterbaik.com/
Perlu
saya akui bahwa keberadaan begal ini juga meresahkan saya. Pernah saat
berangkat ke kampus ITB pada pukul 19.30 WIB, saya melihat dua orang berpakaian
hitam dan liar layaknya preman berdiri di dekan tempat kendaraan berputar
mengubah arah. Saya bertanya-tanya apakah orang-orang ini yang kita sebut
sebagai begal, namun para pengendara lainnya seakan tidak peduli terus saja
melaju, atau mungkin mereka juga ragu sama seperti saya. Yah, yang pasti,
keberadaan begal ini sangat meyakinkah saya bahwa semua pihak, kecuali pihak
begalnya (lol), harus mengambil langkah antisipasi untuk melindungi dirinya,
terutama setelah telah jatuh beberapa korban seperti sekarang ini. Saya pribadi
sudah mulai mengantar jemput adik saya yang bersekolah di daerah Cihampelas,
dan saya juga menyarankan para pembaca untuk mengambil langkah-langkah
antisipasi semacam ini.
Selanjutnya
adalah fenomena yang ditimbulkan oleh alam, yaitu hujan angina dan badai petir
yang kerap kali menebabkan banjir, pohon tumbang, dan mahasiswa kader mager
mendadak (haha). Payung-payung proyek SBM dan FTMD saya akui sangat membantu
mobilisasi pada saat hujan melanda, dan saya berharap agar jumlah payung yang
disediakan ditingkatkan lagi. Selain itu, saya berharap pada pengelola
fasilitas-fasilitas kampus, terutama di daerah Saraga, untuk memberikan
peringatan tertulis kepada pemakai fasilitas untuk menghentikan kegiatan di
lapangan dan kolam renang saat petir mulai menerangi langit gelap kota Bandung.
Dikhawatirkan jika peringatan yang ada hanya berasal dari inisiatif penjaga
lapang melalui megaphone, peringatan tersebut terlambat mencegah jatuhnya
korban.
Permasalahan
banjir, yang tampaknya sudah menjadi masalah di kota Bandung sejak purbakala
tidak dapat banyak saya komentari. Bandung sendiri memang merupakan sebuah
danau purba (berdasarkan penelitian para peneliti) sehingga wajar saja jika
kota ini menampung air, menimbulkan banjir. Bahkan wilayah Bandung Utara yang memiliki jumlah daerah hijau yang cukup
pun sempat mencicipi banjir saat menghadapi badai ini. Yah, sekali lagi saya katakana
bahwa diri yang memang belum pernah mendapat ilmu geografi untuk mengatasi
permasalahan ini tidak dapat dan tidak berani berkomentar banyak.
Yah,
ini lah sekilas beberapa fenomena yang melanda bumi Ganesha dewasa ini. Sekian
saya ucapkan dan mohon maaf karena kualitas yang buruk dari tulisan ini, maklum
penulis habis lari 10 km dengan fisik yang tidak mumpuni ini. Selamat malam,
dan salam kerbau~.
