Selasa, 21 Februari 2017

Sat Panca

--Sansekerta--
--Semoga kalian mengerti maksud saya--

                Seekor dara terbang ke sana ke mari, diikuti beberapa ekor saudara-saudarinya yang ikut asyik melompat dari satu pohon ke pohon lainnnya, bersiul sembari melambaikan ekor buntutnya mengikuti ke mana arah semilir angin menyapa. Guncangan kecil yang diakibatkannya membuat tetes-tetes embun berjatuhan, sesaat berkilau memecah cahaya surya pucat yang baru terbangun, membuat pelangi kecil yang umurnya lebih singkat dari masa damai di empat dua.

                Beberapa petani berjalan lambat di antara saluran irigasi, tidak peduli dengan lumpur yang mengotori kaki atau bahkan memasuki sela-sela kuku. Para suami memikul canggul dan menggenggam karung bibit, istri-istri memanggul tas jerami berisi bekal untuk sarapan, anak-anak memegangi tangan ibunya. Sungguh suasana damai nan indah, suasana yang baru beberapa tahun belakangan mereka dapatkan.

                Negeri itu sedang dingin saat itu. Angin dingin dari Barat membuat orang-orang bergidik ingin memalingkan badan ke arah sebaliknya, sedangkan beberapa orang tetap diam di rumahnya, dan sebagian yang lebih pintar juga berani mulai membeli produk-produk Tiongkok yang makin membaik dewasa ini. Toh mereka tau apa? Mereka mengerti apa? Sekadar mencari makan untuk esok hari, mencari pakaian untuk menahan dingin, mencari atap untuk berteduh. Hampir tak satu pun dari mereka sadar bahwa ada yang tidak suka dengan tindak tanduk mereka. Tapi mereka tidak mengerti, mereka sekolah pun tidak.

                Ya, mereka sama sekali tak tahu menahu bahwa badai sedang bergejolak di seberang laut sana.

                Mereka juga tak tahu bahwa seratus orang sedang berjalan menuju desa mereka.

                Tiga puluh di antaranya berbadan tegak, sedangkan tujuh puluh sisanya menundukkan kepalanya dengan bahu yang lemas.

                Desa tujuan mereka padahal tidak sampai lima belas rumah, dengan lumbung padi di sebelah rumah kepala desa yang membuat bangunan di sana jadi lima belas atap. Desa mereka tak lebih dari sebuah desa kecil di pulau kecil di selatan ekuator, dengan letak kota yang jauh dan hanya punya satu desa tetangga.

                …
                ….
                …..

                Mereka salah apa?

                Tong tong tong

                Para petani kembali ke desa karena tanda suara dari pentungan. Dengan kaki berlumpur dan tangan yang juga berlumpur karena membibit di sawah, mereka berkumpul di tengah desa tempat anak-anak biasa bermain bebentengan.

                Orang-orang itu bahkan tiidak tahu apa artinya baris dan kolom namun tetap dibariskan bagai pleton tentara sedang berlatih. Seratus orang itu sudah sampai.

                Langit cerah saat itu.

                Hanya saja….

                Sayang, ini bukan kisah perang atau kisah patriotisme. Bukan kisah perjuangan penuh gelora semangat juga bukan kisah dramatis dua insan yang dipisahkan medan pertempuran.

                Ini kisah traumatik. Kisah yang menyakitkan telinga jika didengar dan memerihkan mata bahkan saat hanya dibaca. Alurnya meremas dada dan dialoknya menyesakkan nafas. Kisah yang tak sedap dicerna perut, tidak juga baik diproses otak.

                Ini kisah nyata yang terlupakan.

                Aah maaf. Kisah ini tidak terlupakan, melainkan dilupakan.

                Ditutup-tutupi dengan kisah lain yang lebih heroic, yang lebih memorable.

                Toh saya pun juga pernah tertipu.

                Mengira kisah hina ini seharum mawar.

                Namun hina sekali pun, kisah ini tak layak dilupakan. Mereka, warga desa itu, layak diingat dengan benar, bukan dikesampingkan begitu saja. Mereka, para petani itu, mungkin bapaknya pahlawan kemerdekaan, atau mungkin tetangga tuanya yang pahlawan. Kakek buyutnya mungkin ikut puputan dulu, walaupun kini mereka hanya menggarap sawah.

                Saya tidak tahu apa yang para suami, istri-istri, dan anak mereka lalui setelahnya. Mereka tak pernah bilang apa pun ke saya. Mungkin mereka-mereka itu lebih tahu tapi pura-pura tidak tahu. Ya, mereka, mereka yang mungkin mengerti maksudku atau pura-pura tidak mengerti.

                Jika nyawa dibalas nyawa.


                Entah timbangan apa yang dipakai agar satuan sebanding dengan jutaan.





--Tahu, maka kita terlibat. Tidak tahu pun kita juga akan dilibatkan. Inilah dunia, tempat yang selalu netral, di mana kebahagiaan di kanan berarti sengsara di kiri, atau sebaliknya. Kadang kepala orang lain dijadikan pijakan untuk naik, kadang juga kaki orang menjadi satu-satunya tumpuan untuk mengangkat diri.

--Sungguh, ignorance is a bliss.

--Jadi, saya benar-benar minta maaf....

--Karena dengan sedikit saja tahu, anda sudah terlibat dalam hal ini.